Esai singkat ini pernah dipublish di Harian Kedaulatan Rakyat (sekitar tahun 2010).

Mari kita renungkan dua kisah berikut. Ketika Rasulullah Saw berusia muda, ia telah diberi gelar al-amin yang berarti dapat dipercaya. Karena pribadinya yang kokoh itu, ia dipercaya untuk menjadi penengah atas sengketa beberapa suku di Arab side effects of viagra mengenai kelompok atau suku mana yang paling berhak meletakkan hajar aswad di samping ka’bah. Kisah kedua adalah penolakannya terhadap tawaran malaikat untuk menimbun penduduk Thaif yang menyerangnya sewaktu Beliau dakwah ke negeri itu. Sehingga, dari dua kisah tersebut, Muhammad Saw telah menjadi pelopor dan penegak perdamaian, bukan permusuhan.

Kisah-kisah di atas adalah bagian terkecil dari bukti bahwa Muhammad sebagai uswah hasanah dan simbol ‘Islam yang hidup’ (living Islam) cenderung pada perdamaian. Ini sejalan dengan pandangan Wahidudin Khan dalam The Prophet of Peace (2009). Khan menyatakan bahwa ‘… one of the attributes of God mentioned in the Quran (59:23) is as-Salam, which means peace and security. Thus, God’s Being itself is a manifestation of peace.) (… salah satu sifat Allah yang disebutkan dalam Al-Quran (59:23) adalah as-Salam yang berarti perdamaian dan keamanan. Jadi, Allah sendiri adalah perwujudan perdamaian).

            Dengan merunut berbagai kejadian di tanah air tentang bom bunuh diri dan tindak kekerasan yang seolah-olah direstui oleh wahyu Ilahi, pemahaman dan perilaku tersebut jelas-jelas menciderai visi dan misi Islam yang berwajah rahmah (penuh kasih sayang). Kisah-kisah kenabian di atas sekiranya perlu direnungkan kembali, mengapa Nabi Muhammad memilih untuk mendoakan penduduk Thaif agar Allah memberikan hidayah kepada mereka daripada menyerang dan mengubur mereka dengan timbunan bukit?

            Sebagian orang berargumen bahwa pilihan Nabi untuk mendoakan adalah kondisi darurat karena belum memungkinkan baginya melakukan perlawanan fisik. Hal ini dikaitkan pula dengan Hadis Nabi yang menyatakan bahwa ‘barangsiapa di antara Anda melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangan (kekuasaan) mereka. Apabila kalian tidak mampu maka ubahlah dengan lisan (kritikan, nasehat) mereka. Apabila kalian tidak mampu juga maka ubahlah dengan hati (doa). Dan (yang ketiga) itulah selemah-lemahnya iman.’ Namun, pertanyaannya adalah apakah mengubah keadaan dengan kekuasaan yang dimiliki itu berarti dengan mengabsahkan tindak kekerasan? Tentu saja, ini tafsir yang perlu diluruskan karena tidak mengindahkan pandangan dunia Al-Quran yang menonjolkan kebijaksanaan dan argumentasi.

            Alangkah baiknya, ajakan Allah dan Rasul-Nya dalam QS. An-Nahl: 125 diresapi kembali: ‘Ajaklah menuju pada jalan Tuhanmu dengan cara yang bijaksana, pengajaran yang baik dan debatlah mereka (yang didakwahi) dengan cara-cara yang lebih baik’. Perintah Allah ini mengindikasikan pentingnya jalan (thariqah) atau bahkan ideologi perdamaian dalam melakukan dakwah Islamiyah. Yang dimaksud idelogi di sini adalah ide dan keyakinan yang kita anut untuk berbuat. Dengan ideologi perdamaian, berdakwah adalah dalam kerangka membangkitkan kesadaran beragama secara simpatik, empatik, elegan dan penuh kesadaran. Marilah, momentum Ramadan kali ini kita dijadikan sebagai arena untuk menyemaikan sikap dan perilaku damai terhadap sesama Umat Islam dan kemanusiaan secara lebih luas.